Potret Anak Soleh Zaman Now Sulthon Saleem Gigih Menuntut Ilmu Di Pesantren

Pendidikan10 Dilihat

SUKABUMI,  – Di tengah arus modernisasi dan tantangan zaman, sosok anak muda yang tetap teguh memegang nilai-nilai agama menjadi oase yang menyejukkan. Salah satunya adalah Sulthon Saleem, santri di salah satu pesantren di Sukabumi yang dikenal dengan tekad yang kuat dan cita-cita yang luhur untuk mengabdi demi menggapai ridho Orang Tua serta ridho Ilahi.

Tekad Kuat Mengejar Dua Ilmu Sekaligus

Setiap hari, Sulthon Saleem menjalani hari-harinya dengan penuh kedisiplinan. Pagi hingga siang ia tekun mendalami ilmu akademik, dan sore hingga malam ia tenggelam dalam lautan ilmu agama, mulai dari menghafal Al-Quran, mengkaji kitab kuning, hingga memperdalam akhlak.

Bagi Sulthon, pesantren bukan sekadar tempat belajar, melainkan tempat menempa diri untuk menjadi pribadi yang bermanfaat.

“Saya ingin menjadi anak yang bisa dibanggakan orang tua di dunia dan di akhirat. Saya percaya, kalau Iorang tua sudah ridho, maka Allah juga akan ridho. Itu yang saya kejar setiap hari. Saya ingin ilmu yang saya dapat ini bisa menjadi amal jariyah untuk orang tua,” ujar Sulthon Saleem dengan mata berbinar.

Anak Soleh Adalah Harta Paling Berharga Bagi Orang Tua

Perjuangan Sulthon mendapat dukungan penuh dari sang orang tua. Meski harus melepas anak kesayangannya mondok jauh dari rumah, sang Ibu kini merasakan bangga yang tak terkira melihat perkembangan putranya.

“Sebagai seorang Ibu, saya sangat bersyukur dan terharu. Sulthon dari kecil memang anak yang penurut dan lembut hatinya. Ketika dia bilang ingin fokus di pesantren di Sukabumi untuk mendalami agama, saya langsung dukung sepenuh hati. Saya tidak minta dia jadi orang hebat yang bergelimang harta, cukup jadi anak soleh yang selalu mendoakan orang tuanya. Itu sudah lebih dari cukup dan menjadi harta yang paling berharga bagi saya, Keberkahan adalah sedalanya melebihi harta,” ungkap Ibunda Sulthon Saleem.

Sang Ibu menambahkan, perubahan positif sangat terasa sejak Sulthon masuk pesantren. Ia menjadi lebih mandiri, lebih santun, dan tak pernah lepas dari doa untuk orang tuanya.

“Setiap telepon, yang dia tanya pertama kali, Ibu sehat? Tolong doakan Sulthon betah dan istiqomah di pesantren. Sebagai Ibu, tidak ada kebahagiaan lain selain melihat anak mau berjuang di jalan Allah demi ridho-Nya. Saya selalu bilang, Nak, kejarlah ridho Allah,” tuturnya lirih menahan haru.

Di Mata Tetangga, Sosok Sopan dan Rendah Hati Yang Jadi Teladan

Kesholehan Sulthon tidak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga lingkungan sekitar. Salah satu tetangganya, Bu Dwi, mengaku mengenal Sulthon sebagai anak yang sangat sopan dan rendah hati.

“Kami di sini semua sayang sama Sulthon. Anaknya sopan sekali, kalau ketemu selalu salim dan senyum. Tidak pernah terdengar dia berkata kasar atau membantah Ibunya. Kalau ada kerja bakti atau kegiatan di masjid, dia paling rajin ikut bantu. Walaupun masih muda, akhlaknya sudah seperti orang dewasa yang matang,” ujar Bu Dwi.

Menurut Bu Dwi, keputusan Sulthon untuk mondok di Sukabumi adalah keputusan yang tepat dan patut dicontoh oleh anak muda lainnya.

“Jarang ada anak seusia dia yang mau meninggalkan kesenangan main HP dan nongkrong untuk fokus belajar agama. Sulthon itu contoh nyata anak soleh zaman now. Kami para tetangga selalu mendoakan semoga cita-citanya untuk membahagiakan orang tuanya dan mendapat ridho Allah tercapai,” pungkasnya.

Perjalanan Sulthon Saleem menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa menjadi anak soleh bukanlah hal yang kuno. Justru di era modern inilah, anak-anak seperti Sulthon yang akan menjadi penerang dan harapan bagi keluarga, agama, dan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *