Jakarta – Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto tegaskan komitmen Polri untuk perkuat kerja sama internasional dalam berantas peredaran narkotika khususnya jaringan kejahatan lintas negara di Mabes Polri Jakarta pada Rabu 28 Oktober 2026.
Komitmen tersebut sampaikan dalam pertemuan bilateral dengan delegasi Kementerian Keamanan Publik Republik Rakyat Tiongkok Ministry of Public Security MPS di Mabes Polri Jakarta pada Rabu 28 Oktober 2026.
Pertemuan tersebut jadi momentum untuk perkuat kolaborasi kedua negara dalam ungkap jaringan narkotika internasional. Salah satu hasil kerja sama yang bahas adalah pengungkapan laboratorium gelap atau clandestine laboratory sabu di Aceh dengan barang bukti capai 1,2 ton sabu dan penangkapan 11 tersangka di Indonesia.
Kapolri sampaikan pengungkapan tersebut merupakan hasil kerja sama Polri Badan Narkotika Nasional BNN Bea dan Cukai serta dukungan Komisi Nasional Pengendalian Narkotika Tiongkok National Narcotics Control Commission NNCC.
“Kami mendapatkan kunjungan kehormatan dari Wakil Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Pengendali Narkotika Tiongkok (NNCC), sekaligus juga Wakil Direktur Jenderal Biro Pengendali Narkotik Kementerian Keamanan Publik Tiongkok. Tentunya dalam rangka menjalin kerja sama yang sudah kita lakukan beberapa waktu sehingga dapat mengungkap sebuah jaringan besar clandestine lab di Provinsi Aceh,” ujar Kapolri.
Polri Akan Terus Tingkatkan Kolaborasi Internasional
Ia tegas Polri akan terus tingkatkan kolaborasi dengan mitra internasional untuk putus jaringan peredaran narkotika termasuk telusuri pihak pihak yang berperan sebagai pendana dan pendukung operasional jaringan tersebut.
“Kolaborasi ini akan terus kita tingkatkan dalam rangka keamanan di Indonesia dan juga di beberapa wilayah yang ada di sekitar kawasan Asia. Untuk itu, kami, Pemerintah Indonesia, Polri dalam hal ini, menyampaikan bahwa kita sangat serius untuk melakukan upaya pemberantasan narkotika di Indonesia,” tegasnya.
Kapolri tambah pengembangan perkara laboratorium gelap di Aceh masih terus lakukan untuk ungkap jaringan yang lebih luas. Selain itu penyidik juga dalami keterkaitan dengan kasus lain termasuk pengungkapan yang libat sebuah kapal di wilayah Medan dan seorang warga Malaysia yang duga berkaitan dengan kepemilikan kapal tersebut.
“Kami juga akan senantiasa mendukung Pemerintah Tiongkok dalam rangka mengungkap jaringan besarnya. Dan kami saat ini masih melakukan pengembangan terhadap kasus yang ada di Aceh ini terhadap para pendukung, para pendana, dan juga kaitan dengan jaringan yang satu lagi yang di Medan,” ungkap Kapolri.
Sementara itu Wakil Sekretaris Jenderal NNCC sekaligus Wakil Direktur Jenderal Biro Pengendalian Narkotika Kementerian Keamanan Publik Tiongkok Lan Weihong sampaikan pengungkapan kasus di Aceh merupakan hasil kerja sama penegakan hukum lintas negara yang libat Indonesia Tiongkok dan Malaysia.
Ia jelaskan otoritas Tiongkok sebelumnya telah lakukan penyelidikan intensif selama sekitar satu tahun terhadap kelompok kejahatan yang duga selundup narkotika cair dari kawasan Myanmar Thailand dan Laos ke sejumlah negara termasuk Indonesia.
“Pada bulan September tahun ini, NNCC Tiongkok sudah melaporkan informasi tersebut kepada BNN Indonesia dan kedua belah pihak menentukan melakukan kerja sama itu bisa bersama-sama memberantas tindak pidana narkotika lintas negara,” kata Lan Weihong.
Menurutnya koordinasi dan pertukaran informasi intelijen antarnegara jadi bagian penting dalam ungkap jaringan tersebut. Dalam pengungkapan yang lakukan pada 21 Oktober 2026 pihak Indonesia tangkap 11 tersangka dan sita 1,2 ton sabu dari laboratorium gelap di Aceh. Sementara itu otoritas Tiongkok tangkap tujuh orang yang duga terkait dengan jaringan tersebut di wilayahnya.
Lan Weihong apresiasi kolaborasi yang terjalin antara aparat penegak hukum ketiga negara. Menurutnya keberhasilan tersebut tunjukkan pentingnya komunikasi koordinasi dan operasi bersama dalam hadapi kejahatan narkotika yang miliki jaringan lintas yurisdiksi.
“Pihak Tiongkok, Indonesia, dan Malaysia dalam kasus kerja sama penegakan kasus ini, kita menunjukkan kapasitas penyelidikan yang sangat profesional, operasi gabungan yang kompak, pengambilan keputusan yang tegas, saling pengertian, dan juga akhirnya bisa mengungkapkan kasus ini dan mencapai hasil yang nyata dan luar biasa,” ujarnya.
Ia harap kerja sama Indonesia dan Tiongkok dalam pemberantasan narkotika dapat terus tingkat terutama melalui pertukaran informasi intelijen dan kolaborasi penegakan hukum untuk bongkar jaringan penyelundupan lintas negara.
Pertemuan bilateral ini tegaskan pentingnya sinergi internasional dalam hadapi kejahatan narkotika yang semakin kompleks. Melalui kerja sama yang berkelanjutan Polri bersama mitra penegak hukum di negara lain komitmen persempit ruang gerak jaringan narkotika sekaligus lindungi masyarakat dari ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.






