Pembangunan PSEL Bogor Raya Dimulai, Olah 500 Ribu Ton Sampah Jadi Energi Hijau dan Serap Lebih  Seribu Pekerja

Berita21 Dilihat

Bogor, – Pemerintah akhirnya memulai babak baru pengelolaan sampah di wilayah Bogor Raya. Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau PSEL Bogor Raya 1 resmi berjalan di Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Kamis, 17 September 2026.

Proyek ini menjadi harapan besar bagi warga Bogor. Selain itu, proyek ini juga menandai langkah serius pemerintah dalam mengubah sampah menjadi sumber energi yang bermanfaat. Oleh karena itu, banyak pihak menaruh perhatian pada kelanjutan proyek tersebut.

PSEL Ketiga yang Masuk Tahap Konstruksi

PSEL Bogor Raya 1 merupakan proyek ketiga yang sudah masuk tahap pembangunan. Sebelumnya, pemerintah telah membangun PSEL Denpasar Raya dan PSEL Kota Bekasi. Kemudian, proyek Bogor Raya menyusul sebagai bagian dari program nasional.

Danantara Indonesia mengerjakan proyek ini melalui dua anak usahanya. Mereka adalah PT Danantara Investment Management atau DIM dan PT Daya Energi Bersih Nusantara atau Denera. Sementara itu, kolaborasi ini menunjukkan keseriusan investasi di sektor energi bersih.

CIO Danantara Indonesia sekaligus CEO Danantara Investment Management Pandu Sjahrir mengatakan proyek ini ditargetkan mampu mengelola lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun atau sekitar 45 persen dari timbunan sampah di Kota dan Kabupaten Bogor.

Target Pengolahan Sampah dan Pasokan Energi Hijau

Pandu menjelaskan bahwa PSEL Bogor Raya 1 memiliki dua fungsi utama. Pertama, fungsi pengolahan sampah. Kedua, fungsi penyediaan energi hijau. Oleh karena itu, manfaat proyek ini sangat besar bagi lingkungan dan masyarakat.

“Dari sisi energi, inisiatif ini akan menghasilkan energi hijau yang dapat menyuplai lebih dari 100 ribu rumah masyarakat Bogor Raya,” ujar Pandu dalam acara peresmian pembangunan di Kabupaten Bogor, Kamis (17/9).

Selain itu, proyek ini juga membawa dampak lingkungan yang signifikan. Pandu menyebutkan bahwa proyek ini akan membantu menekan emisi dari tempat pembuangan akhir.

Dari sisi lingkungan, Pandu menyebutkan proyek ini diproyeksikan juga dapat menurunkan emisi sampah dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) hingga 80 persen dan mengurangi emisi karbon sebesar 640 ribu ton setara CO2 per tahun.

Nilai Investasi Capai Rp2,8 Triliun dan Serap Ribuan Pekerja

Dari sisi investasi, PSEL Bogor Raya 1 memiliki nilai yang besar. Proyek ini juga membuka peluang kerja baru bagi masyarakat sekitar. Bahkan, proyek ini juga mengurangi kebutuhan lahan untuk TPA.

“Inisiatif ini juga bernilai Rp2,8 triliun dari sisi investasi dan insya Allah menciptakan lapangan kerja sebesar 1.200 dan mengurangi kebutuhan lahan TPA sekitar 80 persen,” jelasnya.

Kemudian, peresmian pembangunan ini juga berbarengan dengan agenda penting lainnya. Agenda tersebut adalah penandatanganan perjanjian jual beli listrik. Perjanjian ini melibatkan PT PLN Persero dengan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola atau BUPP.

Pandu mengatakan peresmian pembangunan ini menjadi tahapan penting karena berbarengan dengan penandatanganan perjanjian jual beli listrik antara PT PLN (Persero) dengan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP).

“Hal ini menandai kesiapan untuk mendorong realisasi solusi pengolahan sampah terintegrasi di Indonesia. Permasalahan sampah itu tidak hanya mempengaruhi kehidupan kita sekarang tapi juga masa depan anak kita. Mari berkolaborasi bersama-sama mewujudkan Indonesia yang bersih dan asri, aman, sehat, resik, dan indah,” ucap dia.

Pemerintah Kejar Target Penyelesaian Sampah Nasional

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa PSEL adalah bagian dari strategi nasional. Pemerintah ingin menyelesaikan persoalan sampah secara bertahap. Oleh karena itu, pembangunan PSEL akan terus diperluas ke daerah lain.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pembangunan PSEL merupakan bagian dari program pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan sampah di Tanah Air. Saat ini, pembangunan sudah dilakukan di tiga daerah, yakni Bali, Bekasi dan Bogor. Ke depannya, pembangunan PSEL akan diperluas ke Jakarta dan daerah lainnya.

“Yang sudah kita, Bali, sudah. Kota Bekasi, Jakarta belum. Jakarta belum. Jakarta ini yang paling berat, sebetulnya. Kota Bekasi sudah. Nah, sekarang kita di sini,” kata Zulhas, sapaan akrabnya.

Sementara itu, pemerintah juga sudah menetapkan target waktu penyelesaian. Target tersebut cukup ambisius dan membutuhkan kerja kolaboratif.

Ia menyebut dengan pembangunan PSEL, permasalahan sampah di Indonesia ditargetkan bisa berkurang setengahnya di tahun depan.

“Kita akan perkirakan separuh kita selesaikan itu di 2027. Separuh lagi di 2028 dan ini baru menyelesaikan 22,5 persen. Yang masih ada 70-75 persen lagi,” ujarnya.

Pada akhirnya, Zulhas menekankan bahwa persoalan sampah sudah masuk kategori darurat. Penanganan melalui PSEL akan memberikan dampak ganda. Dampak tersebut meliputi lingkungan bersih dan energi ramah lingkungan.

Zulhas kembali menegaskan permasalahan sampah sangat darurat dan harus diselesaikan secepat mungkin dengan PSEL. Dampaknya tak hanya membuat lingkungan bersih tapi juga menghasilkan sumber energi yang ramah lingkungan.

“Jadi dampaknya sangat baik. Dari sampah yang merusak lingkungan menjadi energi yang bermanfaat. Menyerap tenaga kerja dan lain-lain,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *