Hadiri Seren Taun Desa Pulosari Kalapanunggal, Hasim Adnan: Tradisi Adalah Cahaya Kearifan Menuju Masa Depan

DPRD25 Dilihat

SUKABUMI – HAREWOS.COM Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hasim Adnan, menghadiri prosesi upacara adat Seren Taun yang digelar khidmat di Desa Pulosari, Kecamatan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi. Kehadiran legislator Jawa Barat ini menjadi bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian kebudayaan lokal di tengah derasnya arus modernisasi.

Dalam dokumentasi yang terlihat , Hasim Adnan tampak mengenakan pakaian adat Sunda lengkap dengan ikat kepala (totopong) saat memberikan sambutan di atas panggung acara.

Melalui pernyataan tertulis yang diunggah di akun Instagram pribadi miliknya, @hasimadnan2029 Hasim Adnan menekankan pentingnya menjaga esensi budaya di era digital. Menurutnya, kemajuan zaman dan teknologi tidak boleh membuat masyarakat lupa akan jati diri serta akar budayanya sendiri.

“Seiring arus modernisasi yang kerap menjauhkan manusia dari akar budayanya, Seren Taun hadir sebagai pengingat bahwa kemajuan tidak harus memutus hubungan dengan tradisi,” tulisnya dalam unggahan di akun @hasimadnan2029.

Ia menambahkan bahwa dari nilai-nilai luhur yang terkandung dalam adat Seren Taun, generasi masa kini dapat memetik banyak pelajaran moral penting, mulai dari rasa syukur, pelestarian lingkungan hidup, penghormatan terhadap leluhur, hingga penguatan pembangunan masyarakat yang berlandaskan asas kebersamaan.

Lebih lanjut, politisi Jabar ini menyatakan bahwa warisan tradisi seperti Seren Taun sejatinya bukan hanya milik masyarakat adat atau suku Sunda semata. Tradisi ini merupakan bagian dari peradaban Nusantara yang mengajarkan manusia untuk mencapai kemuliaan hidup dengan menjaga keseimbangan tiga hubungan utama: hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia, dan hubungan harmonis dengan alam semesta.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengutip petuah leluhur Sunda yang sangat relevan dengan isu lingkungan saat ini:

“Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak, cai teu meunang dikotorkeun, jeung adat teu meunang dipohokeun.” (Gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dirusak, air tidak boleh dikotori, dan adat tidak boleh dilupakan).

Menutup pesannya di akun @hasimadnan2029, Hasim Adnan berharap semangat kebersamaan dalam adat Seren Taun ini dapat terus hidup dari generasi ke generasi di Desa Pulosari. Baginya, tradisi ini harus menjadi cahaya kearifan yang menerangi perjalanan masyarakat menuju masa depan yang maju tanpa kehilangan identitas aslinya.

Redaktur: Fauzan Latif Adam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *