Harewos.com, Sukabumi — Di ujung barat Kecamatan Cikakak, berdiri sebuah desa yang tak hanya dikenal karena ombaknya, tapi juga karena jiwanya. Cimaja bukan sekadar titik di peta. Ia adalah denyut nadi Sukabumi yang bergetar hingga ke panggung dunia. Di sini, ombak menyapa langit, budaya memeluk tamu, dan alam dijaga dengan cinta. Inilah Cimaja—desa yang menanam harapan dan menuai keberkahan.
Ombak yang Menyuarakan Nama Sukabumi
Pantai Cimaja bukan hanya tempat berselancar. Ia adalah panggung di mana Sukabumi bicara kepada dunia. Ombaknya stabil, menantang, dan telah menjadi arena kompetisi internasional. Dari gelombang inilah lahir Dede Suryana, peselancar nasional yang membawa nama Cimaja ke podium global. Di balik setiap luncuran papan, ada semangat Sukabumi Mubarakah: berani, bersahaja, dan berakar.
Menanam Mangrove, Menanam Masa Depan
Di pesisir Cimaja, wisata bukan sekadar selfie. Di sini, wisatawan diajak menanam mangrove, menyentuh lumpur, dan merasakan denyut bumi. Edukasi lingkungan bukan formalitas, tapi warisan. Gotong royong warga dan tamu menjadi bukti bahwa Sukabumi Mubarakah bukan slogan, melainkan cara hidup: menjaga alam sebagai amanah.
Rasa Laut yang Penuh Doa
Ikan bakar di Cimaja bukan sekadar menu. Ia adalah cerita tentang musim, tentang nelayan yang berangkat sebelum fajar, dan tentang doa yang menyertai setiap jaring. Sambal pedas, lalapan segar, dan nasi hangat disajikan dengan senyum. Di meja makan, Sukabumi Mubarakah hadir dalam bentuk rasa, syukur, dan silaturahmi.
Menginap di Pelukan Tradisi
Homestay di Cimaja bukan hotel. Ia adalah rumah. Wisatawan tinggal bersama warga, belajar bahasa lokal, ikut serta dalam kegiatan desa. Anak-anak menyapa, ibu-ibu menghidang, dan bapak-bapak bercerita. Kehangatan ini bukan dibuat-buat. Ia tumbuh dari nilai Sukabumi Mubarakah: ramah, terbuka, dan penuh makna.
Pemimpin yang Menjaga Marwah
Di tengah geliat wisata, ada sosok yang menjaga arah: R. Wahyu Cakraningrat, Kepala Desa Cimaja. Di bawah kepemimpinannya, Cimaja tumbuh bukan hanya secara fisik, tapi juga secara spiritual. Ia tak sekadar membangun jalan, tapi juga membangun jiwa desa. Ia percaya bahwa Sukabumi Mubarakah adalah fondasi, bukan tambahan.
Cimaja dan Gelombang Masa Depan
Cimaja adalah bukti bahwa desa bisa mendunia tanpa kehilangan jati diri. Surfing, kuliner, edukasi, dan budaya lokal berpadu dalam satu harmoni. Di setiap ombak, ada harapan. Di setiap sambal, ada cerita. Di setiap langkah, ada Sukabumi Mubarakah.
Cimaja bukan sekadar pantai. Ia adalah gelombang yang membawa Sukabumi ke dunia, dengan keberkahan sebagai layar dan tradisi sebagai kemudi.






